📄 Transkrip Video
Soalnya konon katanya kalau kita belum nyicipin angan lada, kita belum sah ke pandai gelang. Apa sih angan lada itu? Cob boleh tolong dijelasin ke penonton saya nih. Ang lada itu ini ya kuahnya nih ya. Ini kayak gitu ya. Dan ini dia seporsi angen ladanya nih. Yo, Mamen. Balik lagi sama gua Next Carlos di aslinya kuliner lokal bareng Tebotol Sosro. Wuh. Diam dulu ya. Iya, Om. Hari ini gua sedang berada di depan Tugu Badak Kulon. Kalian tahu kan Tugu ini berada di mana? Yes, Kota Pandegelang. Lokasi tempatnya ini ada di alun-alun Pandegelang. Banyak banget orang yang olahraga pagi di sini. Saya senang kegiatan positif itu. Dan di sini gua pengen mencicipi salah satu kuliner khas Pandegelang yang sudah dinobatkan menjadi salah satu warisan budaya tak benda di Indonesia. Nama makanannya adalah Ang Lada. Gua sih kayaknya belum pernah nyobain ini. Jadi nanti kita lihat sendiri makanan itu seperti apa ya. Soalnya konon katanya kalau kita belum nyicipin tangan lada kita belum sah ke pandai gelang dan belum sah juga nih kalau misalnya gua kulineran tidak ditemaniin teman makan gua. Siapa lagi kalau bukan teh botol SRO original? Apalagi diminum dengan cuaca yang panas kayak begini. Wah minum cuy. Segernya luar biasa, Men. Karena teh botol sosro original ini terbuat dari 100% teh melati dan gula asli. Jadi tidak perlu diragukan lagi kesegarannya. Mantap. Wow. Sekarang langsung aja kita ke tempatnya. Enggak jauh dari alun-alun. Let's go, man. Dan ini dia salah satu rumah makan yang menyajikan kuliner khas Pandegelang Angen Lada RM Cepet Udin. Kalau gua lihat di Google Map ini di Jalan Ahmad Yani Pandeglang. Tapi orang sini ada yang bilang Jalan Sukarela. Gua enggak tahu kenapa bisa jadi Jalan Sukarela. Jauh banget ya. Yang pasti dia lokasinya sudah sesuai titik di Google Maps. Yuk kita ke dalam ya. Kita lihat makanan apa sih ini? Itu bakar ikan apa? Nila. Nil apa? Nila terus itu apa, Pak? Kebung. Kebung. Ikan masar jadinya ini, Mang. Iya, Pak. Yang ada beda lagi. Beda lagi. Beda lagi. Di dalam. Di dalam. Ada. Pak. Di dalam. Ada. Gimana? Di dalam. Wah. Ini cumi ada juga, Pak. Ada. Ada. bakar. Ini apa, Pak? Sate. Sate apa? Satei. Ada sate sapi gede-gede banget. Halo, Teh. Eh, salam kenal. Saya next tukang makan dengan Teteh siapa nih? Eva. Teh Eva. Saya mau nanya ya. Ini rumah makan Cep Cep Udin. Cep Udin. Cep Udin itu siapa? Suami. Oh, Cep Udin suami. Ini saya mau nanya, RM Cep Udin ini menyediakan angan lada? Iya. Makanan khas khas Pandeglang. Pandeglang. Apa sih angan lada itu? Coba boleh tolong dijelasin ke penonton saya nih. Ang lada itu isinya apa? Babat sapi. Jeroan isinya babat sapi ya. Itu bentuknya apa? Soto. Kayak sop atau apa? Kayak itu kayak apa ya? Soto. Cuman kan ini mah merah. Iya merah kan pakai cabe merah gitu. Warnanya merah. Warnanya merah. I kuahnya merahnya berarti pedas. Pedas tapi enggak terlalu pedas. Pedas tapi enggak terlalu pedas karena karena warna merah itu dari cabe merah bukan cabe rawit ya. Bu. Oke. Terus dipakaiin tadi babat. Iya. Babat usus paru. Jeroan semua. Jero semua. Enggak ada daging. Paling iga. Aslinya mah ada ig aslinya itu ada. Cuman kita kan ada yang makan pakai jeroan ada yang iga gitu tergantung yang mau makannya kan. Ini ini ya kuahnya ini ya. Ini kayak uh kayak tongseng malah bukan tapi pakai santan enggak? Enggak. E kaldunya dari mana? Dari daging eh dari jeroannya itu kaldunya. Terus selain angan lada jualannya apa lagi? Ikan kain bakar di depan kan bakaran cumi bakar. Cumiak. Iya ayam bakar. Sate daging. Tapi yang paling favorit di sini apa? Angin lada sama lada. Angin laj ada yang dicari makan karena angin lada mah langka ya. Jarang ya jarang. Saya aja baru dengar gitu. Kalau yang bakar-bakaran paling favorit apa, Teh? Paling cumi bakar. Cumi bakar sama ikan bakar kue. Cumi bakar. Dari tahun berapa sih rumah makan cek Udin? Dari tahun 2005. 2000. Uh, udah lama banget ya. Iya. 21 tahun. 21 tahun. Dari awal di sini ya? Dari awal di sini. Ada buka cabang enggak? Enggak ada. Enggak ada. Cuma ini aja satu-satu. Bukanya tiap hari jam. Tiap hari bukanya jam 10an. Jam 10. Sampai jam sampai jam 09.00. Sekarang tiap hari buka? Tiap hari buka. Hari raya aja kalau libur. Oh, hari raya aja. Oke, berarti sekarang ngurus. Sudah ngurus. Iya. Emang masaknya di mana? Dapur. Oh, di sini aja. Iya, di sini. Terus ee masak pagi? Pagi udah ini ya, bukan yang makanan yang perlu disiapkan dari malam gitu. Enggak, bukan. Enggak. Kita mau dadakan. Oke. Oh, dadakan aja kan banyakannya mah yang dibakar masaknya. Mak ang lada itu tahu enggak, Teh? Asal-usulin katanya cuma ada di hari raya ya. Tradisi orang ada. Iya. Tradisi hari raya. Iya. Pandegang itu harus ada. Jan-jan orang-orang di Pandegelang semua pada bisa masak di rumah. Aduh yang bisalah hampir semua karena kan setiap hari raya itu madrat tradisi. Iya. Pasti. Ah kalau gitu kalian datang ke Bandeng Gelang pas hari raya aja. Karena kan tutup. Kalau hari raya tutup kan. Tutup. Ke tempat lain langsung ke rumahnya. Makan di rumah. Ini apa nih? Daun walang. Apa itu daun walang? Ya, itu kan ibarat kita masak nasi uduk ada salam sereh gitu. Oh, jadi kalau enggak pakai dan balang bukan angin lada. Wow. Ini ini yang menjadi salah satu kunci di masakan angen lada ini. Jadi nasi uduk kayak salam serai itu kan lumayan harum ya. Ini kalau ini sama juga. Iya. Punya aroma tersendiri. Aromanya itu bedalah dari yang lail. Tapi gampang nyarinya ya daunnya gampang. Sama ini saya lihat ada bahan-bahannya buat ini bahan-bahan buat bikin angan lada bikin angan lada. Oh nih simpel ya. Iya maksudnya bumbu-bumbu dapur pada umumnya tomatnya tomat ini tomat itu buat sambal mentah. Iya apa namanya? Tomat. Tomat hijau. Iya. Tapi bukan rampai bukan. Oh bukan rampai ramp. Rampai kan kayak anggur itu kecil-kecil. Cabe merah, cabe rawit, bawang merah, kencur. Kencur. Oh, pakai kencur juga. Iya. Itu yang bikin apa dari bumbu. Oh, ya. Dan ini jeroannya ya, babat dan lain-lainnya diolah jadi kayak begini. Langsung aja deh makan sampai ketemu di meja makan. Ini dia seporsi angin lada. Dia ada sambal kecap. Nih kayak gini yang biasa kayak ada di sate gitu dengan irisan rawit dan tomat. Dan ini sambal tomatnya tapi sambal tomat yang tadi tuh ya yang kecil-kecil itu. Dan ini dia seporsi angen ladanya nih. Oh banyak ya isiannya ya. Buset banyak banget ini isiannya. Dan sebakul nasi tu. Sebelum makan kita doa dulu ya. Kita coba ya. Cobain dulu, Men. Sah. Dikahin ya? Enggak sih? Nasi dikasih kuat tuh. Apalagi kuah panas. Aduh, gila. Wow. Tes dulu. Nyeruput cuy. Aromanya tuh khas banget, Men. Beda. Aku mau coba lagi nih. Gua sih enggak tahu ya daun walang lu aromanya gimana. Lagi mampet lagi gua beras ya. Tapi gua pikir bakal pedas lada wangi lada gitu enggak kok. Kok enggak terlalu pedas tapi bukan pedas yang biasa kan pedas pedas lada itu kan khas banget ya. Jadi dia enggak terlalu ini jero banyak. Babet usus sama apagi ya? Paru ada bawang merah juga kan. Enak nih kecapnya. Walaupun kecap manis tapi enggak enggak terlalu kental. Makan cuy. Sensasi makan sate itu enak kecapnya. Huh. K gigi rawit di ini. Kecap nih. Sekarang gua mau coba sambal tomatnya ya. Har banget ada kencurnya gitu loh. Bikin anget. H bikin hangat. Rasanya sih kalau orang yang kayak foto apa gitu. Enggak. Ini enggak mirip Soto. Apalagi ini enggak pakai santan. Jadi walaupun warnanya merah kayak tongseng enggak. Ini jauh dari itu. Ini cobain. Cobain. Ambil coba ya. Kuahnya ya. Awas dagingnya enggak enggak kan enggak ada dagingnya. Kencerannya makan cuy. Ih, kayak apa ya? Kayak apa? Bingung. Tidak familiar kan? Iya. Eh, kayak kayak ada familiar sama makanan zaman dulu. Apa ya? Apa? Tapi ini untuk pertama kali makan sih habis. Salah satu makanan yang unik ini tuh kayak kayak gule kambing tapi yang versi lebih ringannya kalau kata tim gua ya. Walaupun tadi ada kencurnya tapi kencurnya tuh enggak enggak terlalu dominan. Udah makan yang anget-anget kita tutup dengan yang diginiin. T botol sosro original biar makin lengkap pakai es batu dong. Mana es batu biar makin segar. Uh, mantap. Minum, cuy. Segarnya luar biasa, Men. Gua bisa ngerasain sedikit rasa sepat yang khas banget dari teh aslinya, Men. Karena teh botol sosro original ini terbuat dari 100% teh, melati, dan gula. Jadi, pokoknya apapun makanannya minumnya teh botol sosroom. Udah kelar makan, man. Dan ini gua mau nanya pendapat tim gua nih. Lu pertama kali makan angin lada? Iya. Gimana? Enak? Segar. Satnya tuh kayak ada aroma aroma yang hint ada hin-hin dari ini ya? Her walang. Her dari walangnyaempah walang. Iya. Enak belum buat lu best. Ada best. Ini pertama kali makan angan lada. Pertama kali secara rasa enggak familiar ya. Mak kayak rasa baru ya. Rasa baru rasa baru. Tapi tesnya gimana? Tesnya enak. Segar kok. Benar. Kuahnya ya se ya agak bulai tapi light gitu. B apa enggak? B. Wah best. Oke terakhir colik. Colik kita panggil colik. Yohanes namanya. Yohanes namanya. Nama dia tuh Yohanes. Terdiri dari empat suku kata. Apanya? Yohanes. Abdul. Abdul. Colik. Colik Sembiring. Sembiring. Lu tinggal pilih mau manggil dia yang mana. Gimana rasanya angin Lada? Enak. Rempahnya berasa seperti yang kata Gilber tadi, dia lebih kayak gini apa yang menonjol apa? Bunga walang walang ya hindari walangnya itu bada B enggak buat lu? Menurut aku masuklah badabes. Tapi yang untuk yang iganya Pak kalau angin ladanya berbes enggak? Belum. Belum. Belum ya? Belum ya? Berarti balik ke masalah selera ya. Karena gua baru pertama kali makan angen lada tuh. Gua kan selera gua tidak bisa mewakili seluruh rakyat Indonesia apalagi mewakili penonton gua. Enggak bisa. Makanya gua panggil tim gua tadi tuh pada nyobain masing-masing dengan seleranya masing-masing. Berbeda kan? Ternyata makanya selera itu tidak bisa diwakilkan, Men. W gitu. Yang penting sekarang saatnya kita bayarbayar. Peng saya udah kelar makan. Kenyang banget. Enggak. Tapi yang yang saya lucu ya namanya Angen Lada. Ang lada tuh kalau bahasa Indonesianya sayur lada. Tapi saya enggak enggak enggak nyium lada. Pakai lada enggak? Enggak enggak pakai. Kalau bahasa Indonesia kan pedas. Kalau orang sudah makan lada gitu. Oh lada tuh maksudnya pedas. Iya. Makkan kalau pedas itu kan merica ya kalau enggak salah ya. Nah lada yang saya pikir tuh merica. Merica kan khas banget tuh. Pedasnya juga. Kalau pakai merica mah sok biasa. Jadi stok. Iya. Tapi ya itulah uniknya angen lada khas Pandegelang. Jadi kalau kalian penasaran angan lada tuh rasanya bagaimana sih? Mampir aja ke pandeglang. Harganya itu proporsi apa satuan apa paketan? Kalau angin ladanya aja kan itu 25. Kalau yang iga 30 seporsi. Terus kalau pakai nasi segala macam itu berapa? Kalau pakai nasi lagi tambah nasi kan Rp5.000. Tambah nasi R5.000. Tapi sebakul enggak? Enggak. Itungnya seporsi aja. Itunya seporsi ya. Nasi udah sambal itu R5.000 tuh nasi sambal lalap gitu ya. Ya, itu dia harganya. Kita total berapa, Teh? Saya bayar enggak usah. Kasih banyak ya. Terima kasih, Teh boleh diliput tempatnya. Ini saya juga kebetulan lagi kerja sama Teh Botol Sosro. Nah, jadi yang menurut saya makanan yang enak itu bakal dapat ini stiker asli enak rekomendasi T botol Soro Xmax Carlos. Wah, nih termasuk angin lada nih. Untuk saya yang baru pertama kali makan, saya suka. Nah, enggak cuma ini teh. Nanti tim teh Botol Sostro juga bakal mempromosikan gratis di sosial medianya Teh Teh Botol Sosro. Eh, kita tempel ya. Saya tempel dulu nih, Teh. Gimana nih, Teh? Tempel. N. Sekali lagi makasih sudah boleh diliput tempatnya. Mudah-mudahan video saya bermanfaat, bisa datangin rezeki ke sini. Amin. Amin. Terus ya juga bermanfaatlah bisa bermanfaat. Jadi tempat ini bisa jadi lebih sukses. Banyak rezeki. Saya jalan dulu. Sukses selalu. Yuk. Mari kita pul sama-sama. Nikmatnya angin lada yang hangat di tenggorokan dan juga aroma yang khas banget dari daun walang telah bertransformasi dari masakan rumahan menjadi warisan budaya kebanggaan nusantara yang tak ternilai bersama gua dan botol Sosro. Mari ikuti terus perjalanan gua untuk terus melestarikan keaslian kuliner Indonesia. Karena apapun makanannya minumnya teh botol sosro. tampilannya kayak mau apa kerja di PNS gitu biasanya enggak enggak begini ya rapinya biasanya kan kalau masak mah lagi bajunya kalau habis udah beres mas biasa rapi lag kalau masak mah ya seperti biasa pakai dasteran saya pikir masaknya kayak begini rapi banget Pak weh bule bule bule gua dibilang bule. Yes. Muka gua emang bule banget.