📄 Transkrip Video
Gua kangen banget sama nasi goreng ini sekitar 3 tahun lalu waktu itu makan ini enak gitu. Mantap. makan cuy susah bekata kakak. Yo, Mamen, balik lagi sama gua Next Carot di Makan Keliling Indonesia. Wuh. [Musik] [Musik] Diam dulu ya. Iya, Om. Patman beraksi main tengah malam, Men. Jadi, gua itu kan sebenarnya ke Ambon itu udah ini yang kedua kali. Jadi, pertama itu gua ke Ambon sekitar 3 tahun lalu dan bikin konten. Di antara konten itu kita udah makan di tempat lain yang gak kita kontenin. Makanannya nih yang di belakang kita. Waktu itu makan ini enak gitu. Dan ini sebenarnya sebelumnya ini gua baru aja habis ngonten, tapi karena gua kangen banget sama nasi goreng ini, jadi dia sebenarnya banyak menu di dalam. Tapi yang gua mau pesan itu nasi goreng merah itu dia pakai babi pakai samcan gitu. Nah, karena ini kontennya mengandung babi, jadi buat mamen-mamen gue yang muslim misalnya pengen skip video ini boleh, mau lanjut juga boleh. Ini namanya adalah warung super jumbo. Nama jalannya aduh gua lupa lagi. Tapi kalian kalau misalnya cari di Google Map ini udah sesuai sama tinggi. Halo, Kak. Halo. Yang ke mana nih? Di dalam. Oh, di dalam. Wah, ini yang mana nih? Ini. Ini. Saling tunjuk-tunjuk. Saling tunjuk-nunjuk. I dia paling suka ikuti apa nih? Makan ya? Mamen kamu mamen tadi ada komen bilang mampir mau makan tuh. Oh kamu kamu tahu saya lagi di Ambon. Iya waktu lihat story tadi. Oh waktu lihat story ya? Enggak. Tapi kenapa saya datang ke sini? Karena waktu dulu saya ke Ambon. Iya. Saya ke sini makan. Iya waktu itu sudah tutup toh. Sudah mau tutup. Oh udah mau tapi udah mau tutup tapi makan. Iya udah makan gitu. Saya makan nasi goreng merah. Oh, jumbo. Nasi goreng jumbo yang merah itu. Nanti cobain ada babi sore. Oh, enggak usah, enggak usah. Aku cuma mau makan nasi goreng. Oh, nasi goreng aja. Iya, itu yang bikin aku mau datang lagi ke sini. Aku kangen nasi goreng merah itu. Dengan Kak siapa? Dengan Desi. Desi. Desi. Iya. Desi. Asli mana? Enggak, aku orang dari Surabaya. Di Indonesia Timur tuh banyak orang Surabaya ya. Oh, soalnya suami yang orang Ambon. Suami orang Ambon ini. Iya, orang Ambon. Cin Ambon. Nah, itu saya baru percaya in Ambon. Sudah berapa lama di ini? Di Ambon sudah 18 tahun. Oh, udah lama juga ya. Dari 2000 nikah. Sudah nikah 2007. Ketemunya emang di Ambon? Enggak. Eh, enggak sih di Surabaya. Oh, ketemunya di Surabaya. Jadi dibawa ke Ambon. Nah, terus ini sudah berapa lama jualnya? Ee l 5 tahun 6 tahun. Baru 6 tahun. Berarti waktu kita datang waktu itu baru 3 tahun. Super jumbo tuh di situ ditulis tidak buka cabang. Kenapa ada yang meniru-niru? Ada e ada jumbo gitu. Oh, ada jumbo-jumbo lain. Warung jumbo kan. Kadang kan kayak komplain di jumbo, jumbo lain nanti komplain di kita kan takutnya. Oh, takutnya dikomplain. Tapi itu emang kamu enggak kenal? Kenal tapi bukan kayak cabang gitu loh. Oh, kamu kenal tapi itu bukan cabang. Jadi beda dapur ya. Nah, terus sebenarnya di sini p favorit apa sih? Kalau paling favorit tu nasi goreng merah. Iya. Terus terus babi tore. Babi tore aku nasi goreng merah jumbo sama babi tore enggak boleh kita coba ya. Buka jam berapa? Bukanya jam 11.00 kok sampai jam sampai jam .30. 11.00 pagi sampai 11.30 malam. Oke. Boleh. Terus kita eh ini sebenarnya nasi goreng merah tuh masakan makannya bukan sih? nya ini kan kokinya orang Tor aja semua ni. Tapi kamu udah bisa masak bisa. Wah dia jadi dia tergantung sama si ini nih juru masak ini yang mana itu kamu kokinya orang tua raja ada empat orang sem empat orang tua raja semua ya. Wah iya mudah-mudahan awet ya dan langgeng gitu suksesnya bareng-bareng gitu. K makasih ya K. Amin. Amin. Sudah lapar ya Pab makan kita. Iya ya udahlah ni kita pesan dulu ya. Sampai ketemu di meja makanan gua. [Musik] Mantap. Ini baru nasi goreng jumbo. Nasi goreng merah jumbo yang saat itu bikin kita tergila-gila dan hari ini kayaknya harus dikontain. Dan ini babi torenya katanya yang salah satu favorit juga. Kita mulai dari babi tore aja ya. Nih babi torenya nih. Wuduh. Gila samcennya banyak banget. Busetnya tebal banget. Tebal banget lemaknya. Buset makan cuy. Doa dulu doa dulu ya. Maaf ya. Hmm. [Musik] Digoreng tuh kok tapi enggak keras ya? Iya. Empuk banget babinya. Hah. Ini sebenarnya sambalnya nih. Sambal buat babi toreya. Nah, gua pakai ini ya. Begini kah makannya? Makan, cuy. Hmm. H. Oh, ini kayak perpaduan kecap dan dabu-dabu nih. H enak nih. Bikin sempurna ininya. Hah. Sekarang kita bantai nasi goreng, Men. A gua enggak mungkin sih makan ini sendiri begini. Gede banget, Men, porsinya. Wah, gila. Ini gua bagi-bagi berempat. Kita dua porsi kayaknya kebanyakan bisa dibungkus sih buat besok. N jadi dia ada potongan babinya, ada lapcongnya. Aduh ini nih. Hah makan cuy susah bekata kakak. The best ni best gnya nasi gorengnya tuh mirip nasi goreng Chinese yang nasi goreng kecap gitu yang Chinese cuma ada sedikit ini Kan warna merah nih biasanya dia pakai pakai apa itu ya? Tahu sausnya tadi. Hah? Kayak saus. Saus ya? Tapi enggak tahu bahannya apa. Makanya jadi tuh sausnya itu menambah sedikit aroma yang berbeda. Gila man. Kalau mau agak beda dikit ya, ada fresh-nya dikit. Tambin aja acar. Bahaya ini. Bahaya. Bi masih sebanyak ini. Makanya kayaknya gua udah makan kayak dua piring. Aduh masih ada lah. H enak. Mungkin ini di Makassar banyak yang jual gini ya. Terutama tor aja kejakap jarang nemu nasi goreng merah. [Musik] Mantap. Kenyang sih. Pokoknya kalian kalau misalnya ke Ambon dan boleh makan babi ya, kalian boleh makan ini. Nasi goreng merah cukup jumbo. Habis. Kita mau habisin dulu. Kenyang banget sumpah. Padahal gua makan seperempat ya. Gila kita tadi satu piring bagi merempat kenyang semua. Buset searnya kita pesannya satu piring cuma datangnya dua piring. Cuma kita pikir ya udahlah enggak enak daripada dibalikin. Kita pikir bisa habis piring doang kita udah koy. Akhirnya dibungkus piringnya. Aduh enang banget sumpah. Ini malah si Gilbert bilang apa? Enggak ada obat kata obat. Wah, kata Gilbet enggak ada obat, coy. Buset Luki. Wah, gak ada obat juga ya. Aduh, sekarang saatnya kita bayarbayar. Mau bungkus sama itu tadi satu bungkusnya udah kenyang kita. Iya, aduh soalnya kita sebelum di sini makan tadi. Oh, tinggal makan tempat lain dulu. Iya. Udah ngonten dulu tempat lain, terus langsung lanjut ke sini. Porsi berapa sekarang? Sudah 60. 60? Hah? 60 doang. Kalau dulu itu 50, tapi kan beras naik, daging naik. Di Jakarta 60 paling cuma seporsi yang kecil. Nasi goreng babi loh. Ya kan di sini emang gampang nyari babi sini. Iya. Kalau kayak di abonnya mayoritas kan kita jadi orang banyak. Oh jadi banyak. Makanya dia jadi nasi goreng babi tadi seporsi penuh kita makan berempat aja Rp60.000 satu hari Rp15.000 bisa empat orang ya. Kita sih bisa ya dalam kondisi kenyang. Kalau lapar mungkin 1,5 ya. Kalau babi torenya berapa? Kalau babi 90 60 120 jangan, jangan jangan mau 20 enggak usah bayar. Enggak usah bayar aku mau bayarak. Jangan usah dikembaliin ma bagi-bagi aja lah kalau Oh, orang kerja. Iya, terserah mau diapain. Sudah oke. Makasih banyak. Iya, makasih ya. Aduh, kok senang ya? Serius? Mudah-mudahan video saya bermanfaat ya, bisa datangin rezeki ke sini. Ee apa orang iya enggak apa-apa enggak ada jadi pada telat pulang juga kan gara-gara saya. Iya. Semua tinggal di atas sih. Oh oh gitu. He jadi enggak ada yang telat dongak kerjaan karena tinggalnya di atas. Nanti kita foto ya K. Oh iya boleh boleh. Yuk kita foto dulu aja. Foto dulu. Oke, ayo ayo foto makasih banyak ya. Saya jalan dulu ya. Sukses selalu, lancar selalu rezekinya saya. Iya, sama-sama. Sehat selalu ya. Saya jalan dulu ya. Dah semua. Oke, Mam. Thank you sudah nonton episode kali ini. Seru banget. Sampai ketemu lagi di episode yang lainnya men. Jadi dia sebenarnya ada jual babi tore, ada jual mie tore, nyuknyang juga ada. Nyuknyang tuh. Halo. Gila diambon mamen gua banyak banget. Mamen. Mam. Kakak siapa namanya nih? Kakak Yuli. Kakak Yuli. Mantap. Yeah.